
Persaingan The International 2026 (TI 2026) semakin panas setelah turnamen memasuki fase penentuan di Shanghai. Dari 16 tim yang memulai kompetisi, hanya delapan yang berhasil bertahan untuk memperebutkan Aegis of Champions.
Menariknya, edisi TI15 tahun ini tidak hanya menghadirkan pemain-pemain muda yang mengejar gelar pertama. Sejumlah mantan juara The International juga masih memiliki kesempatan untuk kembali mengangkat trofi bergengsi tersebut.
Bahkan, ada pemain yang memburu Aegis ketiga, sebuah pencapaian yang sangat langka dalam sejarah Dota 2.
Enam Pemain Memburu Aegis Ketiga
Salah satu cerita terbesar di TI 2026 adalah perburuan gelar ketiga.
Sebelum turnamen berlangsung, enam pemain aktif diketahui telah memiliki dua gelar TI dan datang dengan peluang untuk menambah koleksi mereka menjadi tiga. Mereka adalah Yatoro dan Collapse dari Team Spirit, Mira dari Aurora Gaming, 33 dari 1win Team, serta skiter dan Sneyking dari Team Falcons.
Namun, daftar tersebut berkembang menjadi tujuh kandidat dalam beberapa daftar pratinjau TI 2026, menyusul perubahan roster yang membuat satu pemain tambahan masuk dalam daftar kandidat juara tiga kali.
Jika salah satu dari mereka berhasil menjadi juara, sejarah baru Dota 2 akan tercipta.
Team Falcons Punya Peluang Mempertahankan Aegis
Salah satu kandidat paling menarik adalah Team Falcons.
Falcons datang sebagai juara bertahan setelah memenangkan TI 2025. Mereka mengalahkan Xtreme Gaming di grand final tahun lalu dan kini berusaha menjadi tim berikutnya yang mampu mempertahankan gelar.
Dua pemain Falcons, Oliver “skiter” Lepko dan Jingjun “Sneyking” Wu, juga memiliki dua gelar TI. Artinya, kemenangan Falcons pada TI 2026 akan membawa mereka menuju Aegis ketiga secara personal.
Bagi Falcons, misi tersebut memiliki dua lapisan. Mereka bukan hanya ingin mempertahankan status sebagai juara bertahan, tetapi juga membawa dua pemainnya semakin dekat dengan rekor individual yang sangat sulit dicapai.
Team Spirit Mengincar Gelar Ketiga
Team Spirit juga memiliki sejarah kuat di The International.
Yatoro dan Collapse telah dua kali menjadi juara bersama Spirit. Keduanya kini memiliki kesempatan untuk menambah koleksi gelar menjadi tiga.
Namun, perjalanan Spirit pada musim 2026 tidak sepenuhnya mulus. Performa mereka menjadi salah satu alasan mengapa beberapa prediksi sebelum turnamen tidak menempatkan Spirit sebagai favorit utama.
Meski demikian, TI selalu memiliki kemampuan menghadirkan kejutan.
Pengalaman Yatoro dan Collapse di pertandingan besar dapat menjadi modal berharga ketika tekanan semakin tinggi di fase playoff.
Mira Juga Berpeluang Menulis Sejarah
Miroslav “Mira” Kolpakov menjadi salah satu pemain yang menarik perhatian.
Mira memiliki dua gelar TI dari kemenangan bersama Team Spirit pada TI10 dan TI12. Kini ia mencoba mendapatkan Aegis ketiga bersama Aurora Gaming.
Aurora memang bukan tim yang paling banyak disebut sebagai favorit utama, tetapi pengalaman Mira dapat menjadi faktor penting.
Jika Aurora mampu menjaga konsistensi dan melewati lawan-lawan kuat di bracket, Mira berpeluang menjadi salah satu pemain pertama yang mengoleksi tiga gelar TI.
33 Mengejar Gelar Ketiga Bersama 1win
Nama lain yang tidak boleh dilewatkan adalah Neta “33” Shapira.
33 telah memenangkan TI bersama dua organisasi berbeda dan kini mencoba kembali mencapai puncak bersama 1win Team.
Kemampuan 33 dalam memainkan posisi offlane dan membaca permainan membuatnya menjadi salah satu pemain berpengalaman yang dapat mengubah jalannya pertandingan.
Namun, untuk mengangkat Aegis ketiga, 1win harus melewati sejumlah tim kuat yang masih bertahan di Shanghai.
Team Liquid Memburu Aegis Ketiga Organisasi
Selain perburuan individu, ada pula pertarungan menarik dari sisi organisasi.
Team Liquid merupakan salah satu dari sedikit organisasi yang telah memenangkan The International dua kali. Mereka kini mengejar gelar ketiga.
Liquid telah memastikan tempat di playoff setelah melewati fase grup dengan kemenangan penting atas Aurora Gaming.
Jika berhasil menjadi juara TI 2026, Liquid akan kembali menempatkan diri sebagai organisasi dengan koleksi Aegis terbanyak sepanjang sejarah.
OG dan Spirit Juga Punya Warisan Besar
Persaingan untuk mendapatkan Aegis ketiga bukan hanya tentang pemain.
OG, Team Spirit, dan Team Liquid saat ini merupakan tiga organisasi yang sama-sama telah memenangkan The International sebanyak dua kali.
OG memiliki sejarah yang sangat unik karena menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar The International pada 2018 dan 2019.
Spirit kemudian mencatat dua kemenangan pada TI10 dan TI12, sementara Liquid menjadi juara pada TI7 dan kembali memenangkan turnamen tersebut pada era berikutnya.
Kini, TI 2026 berpotensi mengubah persaingan tersebut jika salah satu organisasi berhasil mendapatkan Aegis ketiga.
Siapa yang Paling Berpeluang?
Melihat kondisi TI 2026 saat ini, Team Falcons dan Team Liquid memiliki alasan kuat untuk diperhitungkan.
Falcons datang sebagai juara bertahan dan masih memiliki dua pemain dengan pengalaman mengangkat Aegis dua kali. Liquid juga telah menunjukkan kemampuan bertahan di fase grup dan berhasil lolos ke playoff.
Di sisi lain, Team Spirit memiliki pengalaman luar biasa di pertandingan besar, sementara Mira dan 33 dapat menjadi ancaman apabila tim mereka menemukan momentum yang tepat.
Namun, TEAM VISION (PARIVISION) justru menjadi salah satu favorit terkuat berdasarkan performa fase grup. Mereka menjadi satu-satunya tim yang menyelesaikan grup dengan rekor 4-0 dan catatan map 8-2.
Artinya, perjalanan menuju Aegis ketiga tidak akan mudah bagi para mantan juara.
Aegis Kedua Juga Jadi Perebutan Menarik
Selain pemain yang mengejar gelar ketiga, TI 2026 juga memiliki sejumlah pemain yang ingin meraih Aegis kedua.
Tercatat ada banyak pemain yang telah menjadi juara sekali dan kini kembali berada di panggung terbesar Dota 2 untuk menambah koleksi mereka. Hal ini membuat persaingan TI15 semakin menarik karena terdapat kombinasi antara legenda lama, juara bertahan, dan generasi baru.
Bagi pemain yang sudah pernah merasakan kemenangan, pengalaman tersebut bisa menjadi keuntungan ketika pertandingan memasuki fase krusial.
Grand Final Menentukan Segalanya
Pada akhirnya, semua cerita tersebut akan ditentukan di pertandingan terakhir.
TI 2026 menggunakan format playoff double-elimination, sementara grand final dimainkan dalam format best-of-five untuk menentukan pemilik Aegis of Champions berikutnya.
Dengan delapan tim yang tersisa, kesalahan kecil dapat langsung mengubah perjalanan sebuah tim.
Bagi para mantan juara, pengalaman menjadi juara tidak menjamin kemenangan. Mereka tetap harus beradaptasi dengan meta, menghadapi pemain generasi baru, dan mempertahankan performa terbaik sepanjang playoff.
The International 2026 menghadirkan perburuan Aegis yang sangat menarik. Sejumlah mantan juara masih bertahan dan memiliki kesempatan untuk mencetak sejarah baru.
Yatoro, Collapse, Mira, 33, skiter, dan Sneyking merupakan nama-nama yang memburu Aegis ketiga, sementara Team Liquid, Team Spirit, dan organisasi lainnya memiliki ambisi menambah koleksi gelar mereka.
Di sisi lain, Team Falcons datang sebagai juara bertahan dan berusaha mempertahankan Aegis yang mereka raih pada 2025.
Dengan TEAM VISION tampil sangat kuat di fase grup, persaingan menuju grand final diprediksi berlangsung sengit. Satu pertanyaan besar kini menunggu jawaban: apakah TI 2026 akan melahirkan juara baru, atau justru menjadi panggung lahirnya pemilik Aegis kedua dan ketiga?