0 Comments

Paul Pogba pernah berada di puncak dunia sepak bola. Gelandang asal Prancis itu pernah menjadi salah satu pemain paling menjanjikan di generasinya, memenangkan berbagai trofi bersama Juventus, mengangkat Piala Dunia 2018 bersama Prancis, hingga kembali ke Manchester United dengan status sebagai salah satu transfer termahal dalam sejarah sepak bola.

Namun, perjalanan karier Pogba kemudian berubah drastis. Cedera yang terus berulang, inkonsistensi performa, persoalan di luar lapangan, hingga hukuman larangan bermain akibat kasus doping membuat kariernya semakin jauh dari ekspektasi. Pada 2026, Pogba kembali menghadapi ketidakpastian setelah masa sulit bersama AS Monaco.

Awal Karier: Bakat Besar yang Bersinar di Juventus

Pogba mulai menarik perhatian sejak masih muda. Setelah menimba pengalaman di akademi Le Havre, ia bergabung dengan Manchester United dan mendapatkan kesempatan masuk ke sepak bola senior.

Namun, minimnya kesempatan bermain membuat Pogba memilih meninggalkan Inggris pada 2012 dan bergabung dengan Juventus. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik terbesar dalam kariernya.

Di Turin, Pogba berkembang menjadi gelandang kelas dunia. Ia membantu Juventus memenangkan empat gelar Serie A secara beruntun, dua Coppa Italia dan dua Supercoppa Italiana. Performanya juga membuatnya mendapatkan penghargaan Golden Boy pada 2013.

Pogba bukan sekadar gelandang dengan kemampuan fisik. Ia memiliki kemampuan membawa bola, visi permainan, umpan jarak jauh, kreativitas, serta kemampuan mencetak gol dari luar kotak penalti.

Tidak mengherankan apabila namanya kemudian menjadi incaran klub-klub terbesar Eropa.

Kembali ke Manchester United dengan Ekspektasi Selangit

Pada 2016, Manchester United membawa Pogba kembali ke Old Trafford dengan biaya transfer sekitar £89 juta, yang saat itu menjadi rekor dunia untuk transfer pemain. Ekspektasi terhadap dirinya pun sangat tinggi.

Pogba langsung menunjukkan kualitasnya pada musim pertamanya. Ia membantu Manchester United memenangkan EFL Cup dan UEFA Europa League pada musim 2016-17.

Akan tetapi, perjalanan Pogba bersama Manchester United tidak pernah benar-benar berjalan mulus.

Masalah konsistensi, pergantian pelatih, cedera, serta perdebatan mengenai posisi terbaiknya membuat Pogba kesulitan mencapai level yang pernah ia tunjukkan di Juventus.

Padahal, ketika berada dalam kondisi terbaik, Pogba masih mampu menunjukkan kualitas sebagai salah satu gelandang terbaik di Premier League.

Puncak Karier Bersama Prancis

Jika karier klub Pogba penuh dengan perdebatan, karier internasionalnya justru menghasilkan salah satu pencapaian terbesar yang bisa diraih seorang pesepak bola.

Pogba menjadi bagian penting dari tim nasional Prancis yang memenangkan Piala Dunia 2018 di Rusia.

Dalam final melawan Kroasia, Pogba bahkan mencetak salah satu gol penting dalam kemenangan 4-2 Prancis. Kesuksesan tersebut semakin memperkuat status Pogba sebagai pemain kelas dunia.

Pada periode tersebut, Pogba berada di titik tertinggi kariernya. Ia memiliki kualitas, pengalaman, popularitas, serta trofi yang membuatnya menjadi salah satu pemain paling terkenal di dunia.

Namun, setelah mencapai puncak tersebut, masalah mulai semakin sering datang.

Cedera Mulai Mengganggu Perjalanan Karier

Salah satu faktor terbesar yang mengubah perjalanan karier Pogba adalah masalah kebugaran.

Cedera membuatnya kehilangan banyak pertandingan dan kesulitan membangun konsistensi. Situasi tersebut semakin terasa ketika ia kembali ke Juventus pada 2022 setelah meninggalkan Manchester United.

Alih-alih kembali menjadi motor lini tengah Juventus, Pogba justru hanya tampil dalam sejumlah pertandingan karena persoalan fisik. Periode keduanya di Turin akhirnya berakhir tanpa kesuksesan yang diharapkan.

Juventus kemudian mengakhiri kontraknya pada 2024 setelah Pogba menjalani proses hukuman terkait kasus doping.

Kasus Doping Mengubah Segalanya

Pada 2023, Pogba dinyatakan positif menggunakan DHEA, zat yang dapat meningkatkan kadar testosteron. Ia kemudian mendapatkan hukuman larangan bermain selama empat tahun dari otoritas antidoping Italia.

Pogba mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport atau CAS.

Hasilnya, hukuman tersebut kemudian dikurangi dari empat tahun menjadi 18 bulan, sehingga Pogba memiliki kesempatan untuk kembali bermain lebih cepat.

Meski demikian, kerusakan terhadap kariernya sudah cukup besar.

Pada usia yang seharusnya masih berada dalam fase produktif sebagai seorang gelandang, Pogba justru harus menghabiskan waktu panjang di luar lapangan.

AS Monaco Menjadi Harapan untuk Bangkit

Setelah menyelesaikan masa hukumannya, Pogba akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memulai kembali kariernya.

Pada Juni 2025, ia bergabung dengan AS Monaco dengan kontrak dua tahun. Kepindahan tersebut dianggap sebagai kesempatan bagi Pogba untuk membangun kembali reputasinya setelah melewati periode yang sangat sulit.

Namun, comeback tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Masalah kebugaran kembali menghantui Pogba. Pada musim 2025-26, ia hanya mampu mencatat waktu bermain yang sangat terbatas. ESPN melaporkan bahwa hingga awal 2026 Pogba hanya bermain sekitar 30 menit di Ligue 1 dan bahkan tidak masuk skuad Monaco untuk fase lanjutan Liga Champions.

Situasi tersebut membuat masa depannya kembali dipertanyakan.

2026: Karier Pogba Kembali Berada di Persimpangan

Kini, Pogba kembali menghadapi tantangan besar.

Laporan terbaru menyebut bahwa Monaco sedang bernegosiasi mengenai kemungkinan mengakhiri kontraknya lebih awal. Pogba disebut hanya bermain 115 menit dalam enam pertandingan sepanjang musim 2025-26, sementara cedera terus menghambat proses comeback-nya.

Masalah kembali bertambah setelah Pogba mengalami cedera paha saat menjalani persiapan pramusim. Media Spanyol AS melaporkan bahwa Monaco bahkan telah mempertimbangkan kemungkinan pemutusan kontrak sebelum cedera terbaru tersebut terjadi.

Situasi ini menggambarkan betapa drastis perubahan karier Pogba.

Dari pemain yang pernah dihargai hampir £90 juta dan menjadi juara dunia, kini masa depannya di level sepak bola elite kembali dipenuhi tanda tanya.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Karier Paul Pogba?

Penurunan karier Pogba tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor.

Cedera menjadi salah satu masalah utama karena membuatnya kehilangan kontinuitas. Seorang pemain dengan kemampuan sebesar Pogba membutuhkan menit bermain untuk mendapatkan kembali ritme dan kepercayaan diri.

Kemudian terdapat persoalan inkonsistensi performa. Ketika bermain dalam kondisi terbaik, Pogba masih mampu menjadi pembeda. Namun, ia terlalu sering kesulitan mempertahankan performa tersebut dalam periode panjang.

Selain itu, kasus doping dan hukuman 18 bulan menjadi pukulan terbesar dalam kariernya. Masa panjang tanpa pertandingan membuat proses untuk kembali ke level tertinggi menjadi jauh lebih sulit.

Pada akhirnya, kombinasi berbagai persoalan tersebut membuat karier Pogba bergerak semakin jauh dari potensi luar biasa yang pernah ia tunjukkan.

Pogba Masih Bisa Bangkit?

Pertanyaan terbesar sekarang adalah apakah Pogba masih mampu menyelamatkan kariernya.

Jawabannya belum sepenuhnya tertutup.

Pogba masih memiliki pengalaman bermain di level tertinggi, pernah memenangkan Piala Dunia, memiliki empat gelar Serie A, serta pernah bermain untuk dua klub besar seperti Juventus dan Manchester United.

Namun, usia dan kondisi fisik menjadi faktor penting. Pada 2026, Pogba telah memasuki usia 33 tahun dan membutuhkan kondisi fisik yang stabil agar bisa kembali bermain secara reguler.

Jika Monaco benar-benar mengakhiri kontraknya, Pogba kemungkinan harus mencari klub baru yang bersedia memberikan kesempatan sekaligus memahami proses pemulihannya.

Kariernya mungkin tidak akan pernah kembali seperti ketika ia berada di Juventus atau menjadi juara dunia bersama Prancis. Tetapi jika mampu menjaga kebugaran dan menemukan lingkungan yang tepat, Pogba masih bisa memberikan satu babak terakhir yang lebih positif.

Dari Bintang Dunia Menjadi Kisah Penuh Perjuangan

Perjalanan Paul Pogba menjadi salah satu kisah paling kompleks dalam sepak bola modern.

Ia pernah menjadi Golden Boy, juara Serie A, pemain termahal dunia, pemenang Europa League, hingga juara Piala Dunia. Semua pencapaian tersebut menunjukkan betapa besar potensi yang dimilikinya.

Namun, karier Pogba juga memperlihatkan bahwa bakat besar tidak selalu cukup untuk menjamin perjalanan panjang di level tertinggi.

Cedera, masalah konsistensi, persoalan di luar lapangan dan hukuman doping membuat kariernya berubah dari kisah tentang kejayaan menjadi perjuangan untuk mendapatkan kembali tempatnya di sepak bola profesional.

Kini, masa depan Pogba kembali berada di persimpangan. Jika ia mendapatkan kesempatan baru, tantangan terbesarnya bukan lagi membuktikan bahwa dirinya berbakat, melainkan membuktikan bahwa tubuh dan konsistensinya masih mampu mendukung bakat tersebut.

Related Posts