
Perjalanan Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi di China Masters 2026 akhirnya terhenti pada babak 16 besar. Pasangan muda Indonesia tersebut harus mengakui keunggulan wakil Malaysia Tee Kai Wun/Yap Roy King dalam pertandingan yang berlangsung di Shenzhen Arena, Kamis (3/9/2026).
Faathir/Devin kalah dua gim langsung dengan skor 16-21, 19-21. Hasil ini membuat debut pasangan Indonesia di turnamen BWF World Tour Super 750 berakhir di babak 16 besar.
Kekalahan tersebut terasa semakin menarik karena lawan yang dihadapi Faathir/Devin merupakan pasangan yang lahir dari eksperimen sektor ganda putra Malaysia. Tee Kai Wun dan Yap Roy King berada dalam sistem kepelatihan Herry Iman Pierngadi atau Herry IP, sosok pelatih Indonesia yang kini menangani ganda putra Malaysia.
Faathir/Devin Sempat Memulai dengan Baik
Pertandingan sebenarnya dimulai cukup positif bagi Faathir/Devin.
Pasangan Indonesia mampu membuka gim pertama dengan keunggulan 5-3. Namun, Tee/Yap segera memberikan respons dan menyamakan kedudukan menjadi 5-5.
Setelah itu, momentum perlahan berpindah ke pasangan Malaysia. Tee/Yap mampu menjaga tekanan dan memasuki interval dalam posisi unggul 11-9.
Faathir/Devin berusaha mengejar setelah interval, tetapi pasangan Malaysia mampu mempertahankan kontrol permainan hingga akhirnya mengamankan gim pertama dengan skor 21-16.
Memasuki gim kedua, duel berlangsung lebih ketat. Faathir/Devin berusaha mempertahankan agresivitas, tetapi Tee/Yap mampu merespons setiap tekanan.
Pada akhirnya, pasangan Malaysia kembali menemukan cara untuk mengamankan poin-poin penting dan menutup pertandingan dengan kemenangan 21-19.
Duo Kidal Indonesia Gagal Membalikkan Keadaan
Faathir/Devin dikenal sebagai salah satu pasangan muda Indonesia dengan karakter permainan yang menarik. Keduanya sama-sama kidal, sehingga kombinasi tersebut memberikan variasi tersendiri di sektor ganda putra.
Namun, karakter tersebut belum cukup untuk membawa mereka melewati pasangan Malaysia.
Setelah tertinggal pada gim pertama, Faathir/Devin sebenarnya masih memiliki peluang untuk memaksakan rubber game. Mereka mampu menjaga jarak poin tetap dekat pada gim kedua.
Sayangnya, Tee/Yap tampil lebih tenang ketika pertandingan memasuki fase krusial.
Keunggulan tipis yang berhasil dipertahankan pasangan Malaysia akhirnya menjadi pembeda.
Eksperimen Herry IP Berbuah Manis
Di sisi lain, kemenangan Tee/Yap menjadi hasil positif bagi proyek yang tengah dibangun Herry IP di Malaysia.
Herry memang dikenal tidak takut melakukan perubahan pasangan demi mencari kombinasi terbaik. Tee Kai Wun dan Yap Roy King merupakan salah satu pasangan yang lahir dari proses tersebut.
Tee sebelumnya dikenal sebagai pasangan Man Wei Chong, sementara Yap Roy King sempat bermain bersama Wan Arif Junaidi. Perubahan komposisi tersebut menjadi bagian dari upaya Malaysia memperkuat kedalaman sektor ganda putra.
Herry bahkan disebut memberikan perhatian terhadap potensi Tee Kai Wun dan Yap Roy King sebagai pasangan baru.
Eksperimen tersebut kini menghasilkan kemenangan penting di panggung China Masters 2026.
Tee/Yap Punya Modal Besar untuk Menghadapi Faathir/Devin
Kemenangan Tee/Yap tidak datang secara kebetulan.
Sebelum menghadapi Faathir/Devin, pasangan Malaysia tersebut telah melewati pertandingan babak pertama dengan kemenangan tiga gim atas wakil Taiwan. Mereka menunjukkan kemampuan beradaptasi dan memperbaiki permainan setelah kehilangan gim pembuka.
Tee/Yap akhirnya menjadi lawan yang cukup sulit bagi Faathir/Devin karena memiliki kemampuan menjaga tekanan sekaligus mengontrol tempo pertandingan.
Kombinasi tersebut membuat pasangan Indonesia kesulitan menemukan momentum panjang.
Herry IP Kembali Menunjukkan Sentuhan Strategis
Nama Herry IP kembali menjadi sorotan dalam kemenangan pasangan Malaysia tersebut.
Pelatih yang sebelumnya sangat identik dengan kesuksesan ganda putra Indonesia itu kini memiliki misi besar di Malaysia. Pengalamannya menangani sejumlah pasangan elite membuat setiap eksperimen yang dilakukannya selalu menarik perhatian.
Herry sebelumnya berhasil membantu membentuk pasangan-pasangan ganda putra Indonesia seperti Candra Wijaya/Tony Gunawan, Hendra Setiawan/Markis Kido, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, hingga Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Kini, tantangannya adalah membangun generasi baru ganda putra Malaysia.
Kemenangan Tee/Yap atas Faathir/Devin menjadi salah satu bukti bahwa eksperimen tersebut mulai menghasilkan sesuatu.
Debut Super 750 Tetap Menjadi Pengalaman Berharga
Meski tersingkir, perjalanan Faathir/Devin di China Masters 2026 tetap patut diapresiasi.
Ini merupakan debut mereka di turnamen level BWF World Tour Super 750. Sebelum bertanding, Faathir sendiri sudah menetapkan target realistis dengan mencoba mencapai perempat final secara bertahap.
Pada babak pertama, mereka juga berhasil membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan kelima asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, pada gim pertama dengan skor 21-16.
Pertandingan kemudian berakhir setelah Nur Izzuddin memilih mundur karena kondisi kesehatan yang kurang baik.
Artinya, Faathir/Devin sebenarnya mendapatkan pengalaman penting menghadapi dua pasangan Malaysia dalam turnamen yang sama.
Mereka berhasil melewati pasangan berstatus unggulan sebelum akhirnya dihentikan pasangan eksperimen Herry IP.
Ada Pelajaran Penting dari Kekalahan Ini
Kekalahan dari Tee/Yap seharusnya tidak membuat perjalanan Faathir/Devin dipandang negatif.
Justru pertandingan tersebut bisa menjadi bahan evaluasi penting.
Keduanya masih berada dalam fase perkembangan. Bermain di level Super 750 berarti mereka harus menghadapi pemain-pemain dengan pengalaman dan kualitas yang jauh lebih tinggi.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah bagaimana menjaga momentum ketika sudah mendapatkan keunggulan.
Pada pertandingan melawan Tee/Yap, Faathir/Devin beberapa kali mampu menjaga jarak skor, tetapi tidak berhasil mengambil alih kendali ketika lawan mulai mendapatkan momentum.
Hal seperti ini sangat penting untuk diperbaiki jika mereka ingin naik level.
Duo Kidal Indonesia Masih Punya Masa Depan Cerah
Faathir/Devin tetap menjadi pasangan yang menarik untuk diperhatikan.
Usia muda, kombinasi kidal, serta pengalaman mereka menembus final Macau Open 2026 menunjukkan bahwa keduanya memiliki potensi besar. Mereka juga sudah menunjukkan keberanian menghadapi pasangan-pasangan dengan ranking lebih tinggi.
China Masters 2026 memberikan pengalaman tambahan yang sangat berharga.
Bagi pasangan muda, pertandingan seperti ini bisa menjadi bagian penting dalam proses menuju level elite.
Jika mampu memperbaiki konsistensi dan ketenangan pada poin-poin kritis, Faathir/Devin berpeluang berkembang menjadi salah satu pasangan penting Indonesia di masa depan.
Herry IP Berhasil Menjegal Wakil Indonesia
Ada cerita menarik dari hasil pertandingan ini.
Herry IP merupakan pelatih asal Indonesia, tetapi kali ini strateginya justru membawa pasangan Malaysia menyingkirkan wakil Indonesia.
Tee Kai Wun/Yap Roy King berhasil mengalahkan Faathir/Devin dengan skor dua gim langsung dan memastikan tiket ke perempat final China Masters 2026.
Bagi Herry, hasil tersebut menjadi validasi awal terhadap keberanian melakukan eksperimen pasangan.
Bagi Faathir/Devin, kekalahan ini menjadi pengalaman yang harus dimanfaatkan untuk berkembang.
Hasil China Masters 2026 mencatat langkah Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi harus berakhir di babak 16 besar. Duo kidal Indonesia tersebut kalah dari pasangan Malaysia Tee Kai Wun/Yap Roy King dengan skor 16-21, 19-21.
Kekalahan ini sekaligus menghadirkan cerita menarik karena Tee/Yap merupakan pasangan hasil eksperimen di sektor ganda putra Malaysia yang berada dalam sistem kepelatihan Herry IP.
Faathir/Devin memang gagal mencapai target perempat final, tetapi debut mereka di level Super 750 tetap memberikan pengalaman penting.
Sementara itu, kemenangan Tee/Yap menjadi sinyal bahwa eksperimen Herry IP di Malaysia mulai menunjukkan hasil.
Duo kidal Indonesia memang tersingkir, tetapi perjalanan Faathir/Devin di China Masters 2026 bisa menjadi awal dari proses menuju level yang lebih tinggi.